Setelah sesi pertama fokus ke karakter yang bisa bergerak dan melompat, di kelas kedua ini kami mulai masuk ke bagian yang bikin game terasa lebih “jadi”. Anak-anak mulai membangun level yang lebih lengkap, bukan cuma sekadar tempat buat jalan dan lompat.

Di sesi ini, target kami adalah membuat level sederhana dengan celah atau jurang, lalu menambahkan aturan kalah kalau karakter jatuh. Jadi kalau pemain jatuh terlalu jauh ke bawah, game akan otomatis mengulang level. Kelihatannya sederhana, tapi justru di sini mulai terasa bagaimana sebuah game dibangun dari aturan-aturan kecil yang saling nyambung.

Yang paling terasa di kelas kali ini adalah semangat mereka. Semua anak benar-benar kerja keras untuk menyusun platform, mencoba lompatan, mengecek apakah jaraknya masuk akal, lalu memastikan sistem restart-nya jalan dengan benar. Ada yang harus tes berkali-kali karena karakternya jatuh di tempat yang tidak direncanakan, ada juga yang mulai sadar kalau desain level itu bukan cuma soal menaruh platform sebanyak-banyaknya, tapi juga soal membuat tantangan yang tetap seru dan masuk akal.

Serunya lagi, begitu aturan jatuh dan restart sudah berfungsi, game mereka langsung naik level. Dari yang tadinya terasa seperti latihan gerak dasar, sekarang sudah mulai terasa seperti game platformer sungguhan. Sudah ada risiko, sudah ada tantangan, dan pemain tidak bisa asal jalan terus.

Di titik ini anak-anak mulai melihat bahwa membuat game bukan hanya soal karakter yang bisa bergerak, tapi juga soal menyusun pengalaman bermain. Mereka mulai belajar bahwa posisi platform, tinggi lompatan, dan area jatuh itu semua memengaruhi bagaimana game terasa saat dimainkan.

Secara umum, sesi kedua berjalan sangat baik. Anak-anak tetap fokus, tetap mau mencoba lagi saat ada yang belum pas, dan hasil akhirnya rapi. Semua berhasil menyelesaikan apa yang memang menjadi target pertemuan ini, dan itu patut diapresiasi.

Walaupun sudah memasuki kelas kedua, pendaftaran masih berlangsung! Kalau mau bergabung, silahkan Daftar GPC 2026.