Di kelas keempat Game Programming Class, game buatan anak-anak mulai naik level lagi. Kalau sebelumnya mereka sudah punya karakter, level, jurang, koin, dan skor, kali ini kami menambahkan satu hal penting yang bikin permainan terasa lebih lengkap: nyawa dan Game Over.
Target kelas ini adalah membuat sistem lives, jadi karakter tidak langsung selesai total saat gagal satu kali. Setiap kali pemain jatuh atau terkena kondisi kalah, jumlah nyawanya berkurang. Lalu kalau nyawanya habis, game akan menampilkan kondisi Game Over. Ini langkah yang cukup penting, karena dari sini game mereka mulai punya rasa tantangan yang lebih nyata. Pemain tidak cuma sekadar main, tapi juga harus lebih hati-hati karena sekarang ada konsekuensinya.
Secara umum, anak-anak bekerja dengan baik dan berhasil menyelesaikan target kelas ini. Sebagian besar mengikuti lesson plan sesuai alur kelas, yaitu menampilkan teks sederhana di layar untuk menunjukkan bahwa permainan sudah selesai ketika nyawa habis. Pendekatan ini memang pas untuk tahap sekarang, karena yang paling penting adalah logikanya jalan dulu: nyawa berkurang, lalu kalau habis muncul tanda bahwa game selesai.
Yang menarik, ada juga beberapa anak yang mencoba lebih jauh. Mereka memakai aset gratis untuk membuat tampilan Game Over scene yang lebih serius dan lebih mirip game sungguhan. Ini memang sedikit lebih advanced dibanding target dasar kelas, tapi justru menyenangkan melihat ada yang mulai penasaran dan berani eksplor lebih jauh. Selama fondasi utamanya tetap paham, eksperimen seperti ini justru bagus.
Buat saya, kelas keempat ini salah satu titik yang cukup terasa perubahannya. Setelah ada sistem lives dan Game Over, game mereka sudah tidak terasa seperti kumpulan fitur yang berdiri sendiri. Sekarang semuanya mulai saling terhubung. Karakter bergerak, level punya tantangan, ada item untuk dikumpulkan, skor bertambah, dan sekarang pemain juga bisa benar-benar kalah. Rasanya sudah jauh lebih dekat ke bentuk game yang utuh.
Yang juga enak dilihat adalah bagaimana anak-anak mulai makin terbiasa dengan alur berpikir dalam membuat game. Mereka tidak cuma menaruh objek di layar, tapi mulai paham bahwa sebuah game berjalan karena ada aturan yang saling berhubungan. Kalau ini terjadi, maka nilai berkurang. Kalau nilainya habis, maka tampil kondisi akhir. Pola pikir seperti ini memang pelan-pelan, tapi sangat penting.
Secara keseluruhan, kelas keempat berjalan dengan baik. Anak-anak tetap semangat, tetap mau mencoba, dan hasil akhirnya jelas terlihat. Ada yang hasilnya sederhana tapi rapi, ada juga yang mulai menambahkan sentuhan lebih kreatif. Dua-duanya sama bagusnya, karena yang paling penting adalah mereka paham apa yang sedang mereka bangun.
Walaupun sudah memasuki kelas keempat, pendaftaran masih berlangsung! Kalau mau bergabung, silahkan Daftar GPC 2026.
Di kelas ketiga Game Programming Class, game buatan anak-anak mulai terasa makin seru. Kalau di kelas pertama mereka membuat karakter yang bisa bergerak dan melompat, lalu di kelas kedua membangun level dengan tantangan jatuh dan restart, kali ini fokusnya ada di elemen yang bikin pemain punya tujuan tambahan saat bermain: koin dan skor.
Target kelas ini adalah menambahkan item yang bisa dikumpulkan, lalu membuat skor bertambah setiap kali item itu diambil. Selain itu, skor juga ditampilkan di layar supaya pemain bisa langsung melihat hasilnya saat bermain. Jadi sekarang game mereka bukan cuma soal bergerak dari satu platform ke platform lain, tapi juga mulai punya sistem reward yang jelas.
Secara umum, anak-anak bekerja dengan baik dan tetap semangat mengikuti prosesnya. Menambahkan skor ternyata cukup menarik buat mereka, karena hasilnya langsung kelihatan. Begitu karakter menyentuh koin lalu angkanya berubah, mereka bisa langsung merasakan bahwa game mereka makin mirip game sungguhan.
Tentu saja, seperti biasa, tetap ada bagian-bagian kecil yang jadi bahan belajar. Salah satunya, beberapa anak sempat menaruh teks skor di layer yang kurang tepat, jadi tulisannya tidak tetap diam di layar dan malah ikut bergeser mengikuti area permainan. Ini justru jadi momen yang bagus, karena mereka jadi belajar bahwa bukan cuma objek dan event yang penting, tapi juga penempatan elemen di layar. Hal-hal kecil seperti ini memang sering baru terasa setelah game dijalankan.
Yang menyenangkan, walaupun ada tantangan seperti itu, anak-anak tetap berhasil menyelesaikan target kelas ketiga. Koinnya berfungsi, skor bisa bertambah, dan mereka mulai melihat bahwa game tidak hanya dibangun dari karakter dan level, tapi juga dari sistem yang memberi feedback ke pemain.
Buat saya, kelas ini penting karena anak-anak mulai paham bahwa game yang menarik biasanya punya sesuatu untuk dikejar. Entah itu poin, item, atau target tertentu, semua itu membuat pemain lebih ingin terus maju. Secara keseluruhan, kelas ketiga berjalan baik. Progresnya kelihatan jelas, hasilnya bisa langsung dicoba, dan setiap anak pulang dengan game yang terasa lebih hidup dibanding minggu-minggu sebelumnya.
Walaupun sudah memasuki kelas ketiga, pendaftaran masih berlangsung! Kalau mau bergabung, silahkan Daftar GPC 2026.
Setelah sesi pertama fokus ke karakter yang bisa bergerak dan melompat, di kelas kedua ini kami mulai masuk ke bagian yang bikin game terasa lebih “jadi”. Anak-anak mulai membangun level yang lebih lengkap, bukan cuma sekadar tempat buat jalan dan lompat.
Di sesi ini, target kami adalah membuat level sederhana dengan celah atau jurang, lalu menambahkan aturan kalah kalau karakter jatuh. Jadi kalau pemain jatuh terlalu jauh ke bawah, game akan otomatis mengulang level. Kelihatannya sederhana, tapi justru di sini mulai terasa bagaimana sebuah game dibangun dari aturan-aturan kecil yang saling nyambung.
Yang paling terasa di kelas kali ini adalah semangat mereka. Semua anak benar-benar kerja keras untuk menyusun platform, mencoba lompatan, mengecek apakah jaraknya masuk akal, lalu memastikan sistem restart-nya jalan dengan benar. Ada yang harus tes berkali-kali karena karakternya jatuh di tempat yang tidak direncanakan, ada juga yang mulai sadar kalau desain level itu bukan cuma soal menaruh platform sebanyak-banyaknya, tapi juga soal membuat tantangan yang tetap seru dan masuk akal.
Serunya lagi, begitu aturan jatuh dan restart sudah berfungsi, game mereka langsung naik level. Dari yang tadinya terasa seperti latihan gerak dasar, sekarang sudah mulai terasa seperti game platformer sungguhan. Sudah ada risiko, sudah ada tantangan, dan pemain tidak bisa asal jalan terus.
Di titik ini anak-anak mulai melihat bahwa membuat game bukan hanya soal karakter yang bisa bergerak, tapi juga soal menyusun pengalaman bermain. Mereka mulai belajar bahwa posisi platform, tinggi lompatan, dan area jatuh itu semua memengaruhi bagaimana game terasa saat dimainkan.
Secara umum, sesi kedua berjalan sangat baik. Anak-anak tetap fokus, tetap mau mencoba lagi saat ada yang belum pas, dan hasil akhirnya rapi. Semua berhasil menyelesaikan apa yang memang menjadi target pertemuan ini, dan itu patut diapresiasi.
Walaupun sudah memasuki kelas kedua, pendaftaran masih berlangsung! Kalau mau bergabung, silahkan Daftar GPC 2026.
Di sesi perdana Game Programming Class ini, anak-anak mulai dari dasar: kenalan dulu dengan tampilan GDevelop, lalu lanjut membuat karakter yang bisa bergerak dan melompat di atas platform. Target sesi pertama sebenarnya sederhana, tapi tetap penting: pulang dengan game kecil yang sudah bisa dimainkan.
Dan kabar baiknya, semua siswa berhasil menyelesaikan target sesi pertama.
Buat saya, ini penting. Di kelas anak, rasa “aku berhasil bikin sesuatu” itu besar sekali pengaruhnya. Begitu mereka lihat karakter di layar benar-benar bisa jalan dan lompat karena pengaturan yang mereka buat sendiri, suasananya langsung beda. Jadi bukan cuma lihat contoh, tapi memang sudah mulai membangun game mereka sendiri.
Yang juga menarik, anak-anak mulai berani eksplor. Ada yang mencoba utak-atik posisi platform, ada yang penasaran kenapa karakter bisa jatuh, dan ada juga yang langsung minta kontrol diganti ke WASD. Permintaan terakhir ini seru juga, karena artinya mereka sudah mulai berpikir soal kenyamanan main, bukan sekadar mengikuti instruksi. Untungnya pengaturannya bisa disesuaikan, jadi sekalian jadi momen bagus untuk menunjukkan bahwa game itu memang bisa diubah sesuai kebutuhan pemain.
Secara umum, sesi pertama ini berjalan lancar. Anak-anak bisa mengikuti alur dengan baik, tetap fokus, dan yang paling penting, mereka pulang dengan hasil yang jelas. Bagi orang tua, ini juga enak dilihat karena progresnya langsung kelihatan dari pertemuan pertama.
Ke depan, tantangannya tentu akan naik sedikit demi sedikit. Setelah ini, game mereka tidak cuma punya karakter yang bergerak, tapi juga akan mulai punya level, tantangan, skor, musuh, dan tujuan yang lebih jelas. Jadi fondasinya memang kami bangun pelan-pelan, tapi tetap dengan hasil yang bisa dinikmati setiap minggu.
Senang lihat start pertama Game Programming Class ini bagus. Semoga anak-anak tetap semangat di sesi berikutnya, dan pelan-pelan game mereka makin terasa seperti game sungguhan.
Pendaftaran masih berlangsung! Kalau mau bergabung, silahkan Daftar GPC 2026.
Minggu lalu kami fokus memoles final project. Suasananya produktif dan hangat. Beberapa siswa sudah menyelesaikan proyeknya lebih awal, lalu beralih menjadi “asisten” untuk membantu tim yang masih menemui kendala. Mereka membantu mengurai bug, merapikan alur logika, dan memberi saran UI sederhana agar proyek teman-teman lebih mudah dimainkan.
Pendampingan seperti ini membuat kelas terasa kolaboratif. Anak tidak hanya membangun proyek sendiri, tetapi juga belajar memberi umpan balik, mendesain solusi, dan berkomunikasi dengan jelas. Nilai-nilai ini sama pentingnya dengan kemampuan teknis.
Menuju Hari Presentasi
Pekan depan adalah hari presentasi. Setiap tim menyiapkan:
Deskripsi singkat ide proyek.
Cara bermain dan tujuan permainan.
Di mana mereka menggunakan List dan My Blocks.
Satu pelajaran penting dari proses debugging.
Kami mendorong anak untuk tampil percaya diri. Presentasi menjadi momen untuk merayakan proses belajar, bukan hanya menunjukkan hasil akhir.
Setelah Presentasi
Setelah pekan depan, kelas akan libur singkat untuk menyambut masa liburan. Kami akan umumkan jadwal berikutnya melalui channel resmi. Terima kasih atas dukungan orang tua dan antusiasme anak-anak selama rangkaian kelas ini. Happy coding!
Siap Ikut Coding?
Ingin mendapat informasi batch berikutnya dan jadwal terbaru? Pantau situs dan media sosial kami. Jika membutuhkan bantuan atau ingin bertanya, silakan hubungi tim kami.
Minggu lalu anak-anak masuk ke tahap yang lebih “serius”, tapi tetap fun. Kami kenalkan dua alat penting di Scratch: List dan My Blocks. Dari sini mereka mulai melihat bahwa game tidak cuma soal gerak dan tabrakan, tapi juga soal cara menyimpan dan mengelola data.
Supaya langsung kebayang, kami rakit sebuah game kuis sederhana. Semua pertanyaan dan jawaban disimpan di dalam List, lalu kami pakai My Blocks untuk menjalankan alur kuis dari awal sampai akhir.
Apa yang Anak Pelajari: List dan My Blocks
1. List: Tempat Simpan Data
Kami ajak anak menaruh:
List untuk Pertanyaan
List untuk JawabanBenar dan beberapa list untuk pilihan jawaban
Setiap soal punya nomor. Anak menaikkan nomor pertanyaan, lalu mengambil isi list berdasarkan nomor itu. Mereka lihat sendiri bahwa:
Ganti satu data di List, seluruh game ikut menyesuaikan.
Ini titik di mana mereka mulai paham konsep “data driven”.
2. My Blocks: Bikin Fungsi Sendiri
Setelah itu kami buat blok khusus untuk merapikan alur kuis, contohnya:
Blok untuk muat pertanyaan dan jawaban berdasarkan input nomor
Blok untuk tampilkan pilihan jawaban
Blok untuk cek jawaban pemain dan mengubah skor
Dengan cara ini, anak tidak lagi menyalin blok yang sama berulang kali. Mereka mulai menggunakan pola:
Ubah logika di satu My Block, seluruh game tetap rapi.
Beberapa kelompok sudah cukup nyaman memecah masalah jadi fungsi kecil. Ini langkah besar.
Sekilas Tentang Proyek Kuis
Strukturnya kurang lebih seperti ini:
Naikkan nomor pertanyaan
Baca isi List sesuai nomor
Tampilkan ke pemain
Terima jawaban
Cek benar atau tidak
Ubah skor
Lanjut ke pertanyaan berikut sampai habis
Setiap kelompok boleh mengatur tema sendiri. Ada tema pengetahuan umum, ada yang soal game, ada juga yang ambil topik hewan.
Mulai Final Project
Di akhir sesi, kami mulai Final Project. Setiap siswa berpasangan (grup dua orang) dan mendapat tantangan:
Membuat satu game atau pengalaman interaktif yang:
Menggunakan setidaknya satu List
Menggunakan setidaknya satu My Block
Memanfaatkan blok dan konsep yang sudah dipelajari di kelas ini (events/broadcast, loops, sensing, variables, operators, clones, dan lainnya yang sudah pernah muncul)
Menulis ide, membagi tugas, dan mulai membuat kerangka:
Layar utama
Cara main
Sistem skor/nyawa atau objektif lain
Data yang disimpan dalam List
My Blocks yang membantu merapikan logika
Tujuannya sederhana dan jelas: anak tidak hanya menyalin contoh, tetapi benar-benar merancang sesuatu dari nol dengan alat yang sudah mereka kuasai.
Showcase Final: 30 November
Kami akan menutup rangkaian kelas dengan sesi showcase pada:
🗓 Minggu, 30 November Setiap pasangan akan:
Menjelaskan ide game mereka
Menunjukkan cara main
Menyebutkan di mana mereka memakai List dan My Blocks
Cerita singkat tentang bug yang mereka temukan dan cara mereka memperbaikinya
Ini jadi momen untuk melatih kepercayaan diri, komunikasi, dan rasa kepemilikan terhadap karya sendiri.
Siap Ikut Coding?
Kalau orang tua ingin anak ikut merasakan pengalaman ini di batch berikutnya, pantau terus informasi pendaftarannya di situs dan media sosial kami.
Anak tidak hanya belajar coding, tapi juga belajar berpikir pelan tapi pasti, menyusun ide, bekerja sama, dan menyelesaikan sesuatu sampai tuntas. Kelas baru akan dimulai tahun depan, dan kemungkinan tidak hanya dengan Scratch, lho!
Minggu kemarin di kelas coding anak kita fokus ke belajar Sensing di Scratch. Anak-anak langsung praktek membaca input pemain. Dua alat utama yang jelas dan gampang dirasa hasilnya di game:
touching [mouse-pointer] ? untuk cek apakah objek ketemu kursor
key [arrow keys] pressed ? untuk gerakin karakter pakai panah
Kami ajak mereka bikin mini game kejar kejaran. Karakter pemain kabur, para pengejar mencoba mendekat. Ketika pemain mengarahkan kursor ke lokasi tertentu, karakter merespons. Saat anak menekan panah kiri atau kanan, karakter bergerak cepat menghindar.
Yang Dibangun Di Proyek
Kontrol karakter dengan dua opsi. Ikuti pointer untuk gerak halus, atau gunakan panah untuk gerak tegas.
Deteksi tabrakan memakai touching [Sprite] ? dan demo konsep dengan touching [mouse-pointer] ?.
Sistem nyawa dan skor: nyawa berkurang saat kena. Skor bertambah selama bisa bertahan.
Restart rapi. Semua diatur dengan broadcast agar mulai ulang bersih.
Belajar Sensing di Scratch
Beberapa anak menambah efek kecil saat kena tabrak. Ada yang pasang indikator kedap kedip kebal selama satu detik. Hasilnya makin terasa seperti game beneran.
Kenapa Belajar Sensing di Scratch Penting
Sensing bikin game terasa hidup. Karakter tidak hanya jalan sendiri. Karakter merespons tindakan pemain. Anak jadi paham hubungan sebab akibat. Mereka melihat kalau satu kondisi memicu aksi tertentu. Ini jadi bekal penting untuk proyek yang lebih kompleks.
Catatan Kecil Dari Kelas
Arah gerak sempat kebalik di sumbu X dan Y pada beberapa proyek. Anak menemukan, memperbaiki, dan lanjut lagi.
HUD sederhana dengan ikon bola muncul di beberapa karya. Seru dilihat.
Minggu Depan
Kelas minggu depan akan masuk ke List dan My Blocks. Tujuannya menyusun data level List lalu membungkus perilaku ke fungsi buatan sendiri. Ini jadi start untuk final project kelas. Target pekan depan adalah kerangka menu, loop permainan, serta satu sistem data berbasis List atau satu set fungsi My Blocks.
Ajakannya
Orang tua yang ingin anak belajar logika sambil berkarya bisa ikut sesi berikutnya. 👉 Daftar sekarang di Daftar DPSD 2025 📲 Tanya cepat via WhatsApp: link atau live chat kami.
Kuota kami batasi agar pendampingan tetap fokus. Sampai ketemu Minggu sore.
Minggu depan di kelas coding anak DPSD, kita masuk ke Sensing. Anak-anak akan belajar membaca input pemain lalu mengubah perilaku game secara real-time. Kita latih dua cara kontrol:
Gerak pakai pointer dan cek <touching [mouse-pointer]?>
Gerak pakai tombol dan cek <key [left/right/up/down] pressed?>
Targetnya jelas: Anak paham cara membaca kondisi, mengubah variabel, dan menjaga permainan tetap fair.
Latihan Utama: Hindari Monster
Anak akan membuat mini game menghindari monster. Pemain menggerakkan karakter mengikuti pointer, atau pakai tombol arah. Monster akan mengejar, menabrak, lalu mengurangi nyawa. Kita tambahkan timer dan skor agar permainan terasa menantang.
Komponen baru yang kita bangun:
Kontrol karakter: dengan pointer atau tombol
Deteksi tabrakan:<touching [Sprite v]?> untuk monster dan item.
TIngkat kesulitan: monster makin cepat seiring waktu
Satu catatan perangkat: kelas tetap nyaman di laptop atau tablet yang mendukung tap dan drag.
Kenapa Sensing itu kunci
Sensing membuat game terasa hidup. Karakter merespons tindakan pemain, musuh bereaksi, aturan berjalan konsisten. Anak dapat melihat hubungan sebab akibat, belajar logika kondisi, dan melatih fokus.
Detail Kelas
🗓 Minggu, 2 November, jam 4–6 sore (WITA) 🎯 Topik: Sensing, kontrol pointer dan keyboard, deteksi tabrakan 💻 Perangkat: laptop atau tablet (WiFi disediakan)
Pengen daftar kelas coding anak yang bikin game yang benar-benar merespons gerakan pemain: 👉 Daftar sekarang di Daftar DPSD 2025 📲 Tanya cepat via WhatsApp: https://wa.link/dd87cv
Kuota kami batasi agar pendampingan tetap fokus. Sampai ketemu Minggu sore.
Kelas coding anak kemarin berjalan seru. Anak-anak langsung masuk ke topik Operators dan Variables lalu pakai kedua hal itu untuk bikin skor, timer, dan aturan permainan yang adil. Setelah itu saya mengenalkan konsep klon supaya mereka bisa membuat banyak “balon” tanpa ribet. Hasilnya, layar penuh aksi dan senyum.
Apa yang mereka kerjakan
Mengubah nilai score dan time dengan operasi tambah dan kurang sederhana.
Mengatur spawn balon menggunakan clones supaya objek muncul banyak, rapi, dan tidak menghambat permainan.
Menjaga permainan tetap fair, misalnya dengan jeda kecil, batas jumlah klon, dan kurva tingkat kesulitan yang pelan naik.
Beberapa anak memakai tablet dan tetap bisa mengikuti. Tap terasa natural saat mengejar balon di layar.
Kenapa topik ini penting
Operators dan Variables memberi “otak” pada permainan. Klon membantu menampilkan banyak objek tanpa menyalin kode berulang. Tiga hal ini membentuk pondasi yang kuat. Anak bisa memikirkan sistem, bukan sekadar satu gerakan.
Momen seru di kelas
Ada yang membuat balon bergerak jadi harus dikejar.
Ada yang mengatur jeda spawn balon makin singkat setelah beberapa detik.
Ada yang menambahkan efek kecil saat tap, balon “meletus” dan langsung memicu dorongan untuk mengejar yang berikutnya.
Rencana ke depan
Di pertemuan berikutnya, anak akan merapikan game menu, pause, dan peningkatan kesulitan yang lebih halus. Kita juga akan mengulangi lagi tentang klon agar manajemennya lebih efisien. Tablet tetap aman, tapi kita tetap dorong kerapian logika dulu.
Kalau orang tua mencari kelas coding anak yang fun, terarah, dan mendorong anak untuk berpikir sistem, kelas ini cocok. 👉 Daftar di Daftar DPSD 2025 📲 Tanya cepat via WhatsApp: 0818-493149 (WA ONLY)
Tempat terbatas agar pendampingan tetap fokus. Sampai jumpa di sesi berikutnya. Saatnya anak makin percaya diri, berpikir terstruktur, dan menikmati proses bikin game. 🚀